RSS

Kelas dan Hiburan

29 Agu

Oleh Lovina

AKHIRNYA bisa menulis lagi setelah 3 hari menjalani training. Saya kira jadwal training Mining, Media and Development Asia Pascific Journalism Centre (APJC) termasuk cukup padat. Mulai pukul 09.00 pagi, istirahat makan siang hanya satu jam, kemudian lanjut lagi hingga pukul 16.30. Begitu yang saya jalani selama 3 hari ini.

Topiknya masih sama dengan hari pertama, leadership training. Pengajarnya pun masih sama Suzy Woodhouse. Yang berbeda dengan hari sebelumnya: We’ve got translator! Finally…

Yaa, untuk hari Selasa (27 Agustus) kami—para peserta dari Indonesia—mendapat seorang translator, namanya Cucu Juwita. Karena ia bukan translator tetap, maka Suzy harus merubah jadwal topik pelatihan. Topik yang lebih berat dipilih untuk hari itu agar peserta lebih mudah mencerna karena ada translator.

Assertiveness (ketegasan) dipilih Suzy sebagai topik untuk hari Selasa.

Suzy menjelaskan, orang tegas tidak berarti harus marah. Ia hanya butuh keberanian untuk mengatakan ketidak setujuannya terhadap suatu hal, mencari alternatif lain dan mendapatkan win-win solution—tanpa menggunakan tuduhan, paksaan apalagi kekerasan.

Setiap peserta diberikan kuis untuk menilai kepribadiannya, seberapa besar ketegasannya pada diri sendiri, ketegasan terhadap orang lain, maupun ketegasan di tempat kerja. Saya termasuk tipe lumayan tegas.

Suzy memberikan formula untuk melatih ketegasan kita. Ada 4 cara yang bisa kita lakukan untuk menyatakan sikap tegas kita.

  1. Ketika kamu berkata (melakukan), “………………….” –> fakta
  2. Saya merasa ………………………. –> perasaan
  3. Akan lebih baik kalau kamu  …………………………………. –> memberikan alternatif lain
  4. Maka kamu akan mendapatkan …………………………………. –> result

Contoh:

Gaji saya belum dibayar selama dua bulan. Manajer Keuangan berkata, “Gaji kamu belum bisa saya bayar karena masih banyak iklan yang belum tertagih.”

Ketegasan yang harusnya dilakukan terhadap Manajer Keuangan:

  1. Ketika kamu mengatakan, “Gaji kamu belum bisa saya bayar karena masih banyak iklan yang belum tertagih…,” –> fakta apa yang dikatakannya
  2. Saya merasa tidak nyaman mendengarnya –> apa yang saya rasakan
  3. Akan lebih baik jika kamu mengalokasikan dana lain untuk membayar gaji saya –> alternatif solusi untuk mengatasi solusi tersebut
  4. Agar kamu tidak akan lebih terbebani dengan jumlahnya yang semakin besar dan urusannya tidak sampai ke Departemen Tenaga Kerja –> kesimpulan agar ada efek jera untuknya dan kita mendapatkan apa yang kita inginkan

Catatan penting dari Suzy: menyatakan ketidak sukaan tidak boleh dengan nada ancaman atau paksaan yang membuat pihak yang kita protes semakin marah. Menyatakan ketegasan harus dengan senyuman. Ini tentu berguna bagi seorang wartawan di tempat kerjanya. Reporter harus berani mengemukakan kepada atasannya, apa yang tidak disukainya, apalagi bila menyangkut hak.

Selain ketegasan, Suzy juga membuka mata kami untuk menilai apa saja hal yang paling berharga dalam hidup kami. Materi ini diberikan pada hari berikutnya: Rabu, 28 Agustus. Dan lagi-lagi tidak ada translator untuk hari ini. So, it was little bit hard day for me.

Ada 25 hal yang paling berharga di dalam hidup. Mulai dari kehidupan yang nyaman hingga dunia yang damai, dari kesetaraan hingga kebebasan, kasih sayang hingga balas dendam, keselamatan di akhirat hingga kedamaian spiritual. Dari metode yang dipakai Suzy, saya menyadari bahwa saya orang yang sangat menghargai kebebasan, hidup dengan nyaman serta memiliki kedamaian hati.

Kekuatan (power) juga beraneka ragam. Kekuatan kepribadian, jaringan, penghargaan, memaksa, keahlian, posisi dan informasi.  Saya merasa kekuatan terbesar saya ada pada informasi, jaringan dan kepribadian. Sedangkan kekuatan terlemah saya ada pada pemaksaan, keahlian dan posisi (jabatan).

Sesi terakhir di hari Rabu, kami diajak berpikir tentang etika, fokusnya tentang dilema para jurnalis. Rata-rata hal yang didiskusikan yakni keterkaitan media dengan pemilik modal atau politisi, kontrak halaman serta wartawan amplop. Sesi ini lebih banyak sharing pengalaman. Kami sepakat bahwa perlu ada pagar api (firewall) untuk membatasi antara redaksi dan iklan. Suzy menyarankan metode assertiveness untuk mencegah intervensi pemilik modal maupun politisi ke dalam ruang redaksi. Sedangkan wartawan amplop masih menjadi dilema hingga kini. Satu peserta dari Papua mengatakan bahwa ia pernah menerima amplop karena gaji wartawan di daerahnya tergolong rendah, hanya Rp 1,6 juta per bulan. Sementara ia harus membiayai kehidupan keluarga. Ini memang dilema yang dihadapi sebagian besar jurnalis di Indonesia.

Topik hari ini adalah menilai kepribadian. Suzy menggunakan metode MBTI (Myers Briggs Typology Index). Metodenya sederhana, hanya mengisi sebuah kuisioner untuk memberikan gambaran tentang kesukaan kami. Meski berbeda satu sama lain, ia tak ada kaitannya dengan kesehatan jiwa. Ada Cucu Juwita yang menjadi translator untuk hari ini sehingga peserta dari Indonesia bisa menangkap materi dengan lebih baik.

Tesnya untuk menentukan: apakah saya termasuk tipe introvert atau ekstrovert? Inderawi atau intuisi? Pemikir atau perasa? Penilai atau pengamat? Suzy menekankan, tidak ada yang paling benar dan paling salah di antara semua kepribadian tersebut. Semua memiliki keuntungan dan kelemahan masing-masing. Hal terbaik adalah menyadari bentuk kepribadian diri sendiri dan parter kerja kita agar bisa bekerjasama dengan lebih baik.

Dan dari hasil tes, kepribadian saya adalah introvert, inderawi, perasa dan penilai. Menurut metode MBTI, saya adalah orang yang menyukai detail, teliti, tradisional, setia, sabar, praktis, terorganisir, senang melayani, berdedikasi, melindungi, teliti dan bertanggung jawab. Dan ternyata itu memang GUE BANGET!

Melalui diskusi kelompok, kami diajarkan bagaimana mempengaruhi orang yang berbeda tipe dengan kepribadian kita, agar bisa bekerjasama dengan lebih baik. Kuncinya sederhana: pahami partner kita termasuk tipe apa dan berikan hal-hal yang ia butuhkan. That’s it!

Sebelum sesi MBTI berakhir, Suzy memberikan sebuah metode bagaimana kita bisa menilai diri sendiri dan meningkatkan kepribadian kita. Metodenya sederhana: hanya dengan mencatat poin per poin. Tulis apa saja hal baik yang sudah dilakukan hari ini, apa saja hal buruk yang sudah dilakukan hari ini, dan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki hal buruk tersebut di lain kesempatan. Dengan begitu, kita akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi.

TIGA hari ini belum berakhir sampai di situ. Aktivitas yang dijalani tak hanya di dalam kelas, tentu juga di luar kelas. Saya menyebutnya sebagai kegiatan hiburan setelah lelah seharian dijejali teori-teori di dalam kelas.

Hiburan pertama seluruh peserta mengikuti kegiatan Melbourne Writers Festival (MWF) . MWF merupakan perayaan bagi para penulis, pembaca dan pemikir. Festival ini menghargai kerja para penulis. Salah satu kegiatannya merefleksi keaneka ragaman tradisi dan budaya serta mengasah kreativitas dan pe ngetahuan.

Khusus malam itu (Selasa, 27 Agustus), kami menghadiri MWF dengan tema Tradisi versus Pembangunan. Pertanyaannya sederhana: bisakah komunitas tradisional mendapatkan keuntungan dari pembangunan dengan tetap mempertahankan tradisinya?

Acaranya diadakan di Deakin Edge, Federation Square selama satu jam. Pembicara 4 orang dengan satu moderator Natasha Mitchell dari ABC Radio National. Yang menarik, salah satu pembicara berasal dari Indonesia: Butet Manurung. Ia adalah pemilik Sokola Indonesia. Pembicara lain yakni Abel Guterres dari Pemerintahan Timor Leste di Australia, Simon Musgrave, dosen bahasa dan budaya di Monash University serta Stephen Pollard, ekonom dan konsultan Asian Development Bank.

Para pembicara Melbourne Writers Festival: Tradition vs Development. Dari kanan: Natasha Mitschell, Simon Musgrave, Abel Guterres, Butet Manurung, Stephen Pollard

Para pembicara Melbourne Writers Festival: Tradition vs Development. Dari kanan: Natasha Mitschell, Simon Musgrave, Abel Guterres, Butet Manurung, Stephen Pollard

Butet Manurung mengatakan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 500 bahasa. Selama ini mereka hidup dengan damai hingga akhirnya pembangunan menyingkirkan kehidupan nyaman mereka. Pembangunan menghancurkan hutan, terutama di Pulau Sumatera. Butet juga tak sepenuhnya menyalahkan pembangunan. Ia percaya, pendidikan merupakan solusinya. Suku tradisional harus dididik agar memiliki kapasitas terlibat langsung di dalam proses pembangunan, bukan hanya menjadi penonton dan korban. “Itu yang selama ini kurang diperhatikan pemerintah,” katanya. Itu juga salah satu alasan mengapa ia mendirikan Sokola, sekolah khusus untuk anak rimba.

Pembicara lainnya menyepakati bahwa tradisi bisa sejalan dengan pembangunan, dan semuanya bisa berjalan dengan baik dan damai asalkan semua bisa bekerjasama dengan baik. Selengkapnya bisa dilihat di timeline ini.

Pulang dari Melbourne Writers Festival kami semua kelaparan. Laura Gilmartin, staf APJC yang memandu perjalanan kami menuju restoran Asia. Kami dibawa ke restoran Mamak, menjual aneka makanan melayu. Semuanya khas melayu. Tapi harganya lumayan mahal. Nasi uduk saja $40!

Namun semua tampak menikmati makan malam mereka. Terutama untuk peserta dari luar Indonesia: Mapun, Gynnie, Tevita, Rickson dan Gabriel. Di meja telah terhidang nasi uduk, teh tarik, martabak, nasi goreng, roti canai, teh manis, kopi. Ini kali pertama mereka merasakan masakan melayu. Komentar mereka, it’s so spicy! Namun bagi saya yang sudah terbiasa dengan masakan melayu, makanannya bukan pedas, tapi malah terlalu asin!

Esoknya kami dibawa makan malam ke Absolute Thai Restaurant. Lokasinya di 651 Nicholson Street, Carlton North, hanya 5 menit berjalan kaki dari kantor APJC.

Deborah Steele with the fellows on Absolute Thai Restaurant

Deborah Steele with the fellows on Absolute Thai Restaurant

Ini merupakan welcome dinner dari APJC untuk para peserta. Acaranya pun agak spesial karena kami kedatangan Deborah Steele dari ABC Asia Pacific News Centre. Acara berjalan dengan santai, untuk mengakrabkan para peserta dengan staf APJC maupun dengan sesama peserta.

Di hari ini ada kejutan untuk Deborah Muir, staf APJC yang berulang tahun. Seluruh staf dan peserta APJC merayakan ulang tahun Deborah. Membuat kartu ucapan, menyanyikan lagu Happy Birthday, serta acara potong kue dan makan kue bersama. Perayaan ulang tahun dilakukan di sela-sela pelatihan. Sederhana namun indah. Suasana kekeluargaan amat terasa.

Kami menutup hari ini dengan jalan kaki bersama dari kantor APJC ke Quest Carlton, hotel tempat kami menginap. Biasanya sih pakai bus. Cukup jauh, sekitar 2,5 kilometer jalan kaki namun amat menyenangkan. Kami lebih punya kesempatan untuk bercerita dan bercanda satu dengan lainnya, maupun untuk foto-foto dan melihat pemandangan sekitar. A nice moment!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Agustus 2013 inci Nota

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: