RSS

Profil Lima Pemikir Fungsi Hukum Dunia

  • Friedrich Karl von Savigny
Friedrich Karl von Savigny

Friedrich Karl von Savigny

Friedrich Carl von Savigny (1770-1861) lahir di Frankfurt. Tahun 1795 ia masuk Universitas Masburg, belajar di bawah bimbingan Profesor Anton Bauer dan Friedrich Philipp Weiss, mantan perintis yang paling mencolok dalam reformasi hukum pidana Jerman. Ia mengambil gelar doktor tahun 1800. Di Marburg dia mengajar sebagai privatdozent pada hukum pidana dan pandects. Tahun 1803 ia terbitkan risalah terkenal Das Recht des Besitzes (Hukum Memiliki), para ahli hukum besar menyebut sebagai mahakarya. Ia dengan cepat memperoleh reputasi di Eropa, dan menjadi tugu terkenal dalam sejarah yurisprudensi.

Kegiatannya sebagai guru berhenti pada Maret 1842, saat diangkat sebagai Grosskanzler (High Kanselir) hingga 1848. Tahun 1853, ia menerbitkan risalah tentang Kontrak (Das Obligationenrecht), suplemen untuk karyanya pada hukum Romawi modern. Savigny meninggal di Berlin.

Von Savigny terkenal dengan konsep jiwa bangsa sebagai sumber hukum. Menurut Savigny, “law as an expression of the common consciousness or spirit of the people”. Hukum merupakan salah satu faktor dalam kehidupan bersama suatu bangsa, sama seperti bahasa, adat, moral, dan tata negara. Hukum merupakan suatu gejala di masyarakat.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Oktober 2015 in Jentera

 

Tag: , , , ,

Rempah, Semua Mata Tertuju Padamu

Mengapa Bukan Jalur Rempah? Pertanyaan itu terpajang pada billboard di samping pintu masuk pameran Jalur Rempah. Billboard putih besar itu juga menjelaskan jawabannya. Ia sekaligus menerangkan latar belakang penyelenggaraan pameran Jalur Rempah di Museum Nasional selama seminggu, 19-25 Oktober 2015.

Bermula dari kritikan sejarawan A.B. Lapian yang menyayangkan kurangnya sebutan “Jalur Rempah” untuk jalur para pedagang yang menyelenggarakan hubungan antara negeri Barat dan Timur pada masa lalu. Orang lebih mengenal sebutan Jalur Sutera. “Tetapi yang jelas di dalam sejarah Jalur Sutera, sutera itu hanya salah satu komoditi yang diperdagangkan,” begitu salah satu bagian tulisan di billboard.

Kritikan lain yang muncul: masyarakat Indonesia tidak memperlihatkan upaya serius melakukan penjernihan sejarah dan pemerintah kurang semangat untuk mendapat penjelasan peristiwa sejarah yang lebih tepat dan berimbang terkait peran leluhur yang besar sebagai pemain utama perdagangan rempah. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Oktober 2015 in Nota

 

Konflik Vertikal dan Horizontal Terjadi Pada Kasus Korban 65

DUA KALI Tom Iljas diusir pemerintah Indonesia. Paspornya pernah dicabut dari Indonesia lantaran huru-hara 1965. Dan 50 tahun kemudian, ia kembali terusir dari Indonesia karena berziarah ke makam orangtuanya di Padang.

Tahun 1960, Tom Iljas mendapat tugas belajar di Peking Institute of Agricultural Mechanization, China. Ia lulus tahun 1965, tepat ketika huru-hara sedang berguncang di Indonesia. Tiba-tiba paspornya ditahan imigrasi. Ia sama sekali tak tahu apa yang terjadi di Indonesia. Selama 18 tahun ia terlempar jadi manusia tanpa kewarganegaraan, hingga akhirnya diterima sebagai warganegara Swedia.

Pada 15 Oktober 2015, ia dideportasi oleh imigrasi. Pada 10 Oktober, Tom Iljas bersama keluarga berangkat ke kampung halamannya, Salido, Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, untuk berziarah ke makam keluarga. Perjalanan sekitar tiga jam dari kota Padang.

Esoknya mereka berziarah ke makam ibunda Tom Iljas di pemakaman Kampung Salido. Selanjutnya, mereka meneruskan perjalanan menuju sebuah lokasi yang diyakini penduduk desa sebagai pemakaman massal tempat di mana ayah Tom Iljas berada.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Oktober 2015 in Jentera

 

Tag: , , , , , , , ,

Pemikiran Leopold Pospisil, Satjipto Rahardjo, dan Soetandyo Wignjosoebroto

  • LEOPOLD POSPISIL
Leopold Pospisil

Leopold Pospisil

Leopold Pospisil merumuskan hukum dengan menyebut empat kriteria: keputusan dibuat oleh orang yang punya otoritas publik, penerapannya teratur (universal), ada definisi mengenai hubungan di antara kedua pihak yang berselisih (obligatio), serta terpaut pada sanksi.

Keputusan dibuat oleh otoritas. Seorang pemimpin dalam arti sosiologis harus mempunyai pengaruh yang keputusannya dapat diikuti oleh pengikutnya. Pengaruh seorang pemimpin sejati harus tercermin dalam perilaku para pengikutnya. Pospisil membedakan pengertian pemimpin dan otoritas. Fungsi pemimpin, di samping membuat keputusan, secara aktif juga mengarahkan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan keputusan-keputusan yang kebanyakan bersifat politis. Sedangkan otoritas fungsi utamanya adalah membuat keputusan-keputusan.

Penerapan universal. Prinsip penerapan universal menuntut bahwa otoritas dalam mengambil keputusan, bermaksud di masa mendatang bisa diterapkan berdasarkan prinsip yang sama. Cara-cara penerapan universal memperkuat bahwa keputusan yuridis bukan saja menyelesaikan sengketa, tetapi juga mengandung perumusan tentang apa yang dianggap ideal, yang dicita-citakan, dan bisa digunakan untuk menyelesaikan sengketa yang sama di masa mendatang. Unsur ideal ini sifatnya mengikat bagi semua orang yang tidak turut serta dalam kasus yang dihadapi.

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Oktober 2015 in Jentera

 

Tag: , ,

Important Years

Hampir dua bulan saya kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera. Sebagai salah satu penerima beasiswa, saya mendapat kelas tambahan Bahasa Inggris bersama Muhaimin Syamsuddin. Kami diminta menceritakan important years selama hidup dan merekamnya melalui video. Saya sekelompok dengan Martadina Yosefine Siregar asal Tarutung, Sumatera Utara. Video ini kami rekam di Kampus Universitas Kristen Indonesia, Cawang, dua minggu lalu. Inilah hasil video kami.

Important years Lovina:

Important years Martadina:

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Oktober 2015 in Bunyi

 

Tag: , , , , , ,

Portal Pengaduan dan Aplikasi Deteksi Karhutla

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meluncurkan portal pengaduan kasus lingkungan hidup dan kehutanan serta aplikasi deteksi dini kebakaran hutan dan lahan di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 12 Maret 2015.

Sejauh ini, menurut Himsar, Deputi V Hukum Lingkungan, ada 143 pengaduan yang masuk di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebanyak 71 kasus pengaduan lingkungan hidup, 69 kasus pengaduan kehutanan, 3 kasus di luar kasus lingkungan hidup dan kehutanan. “22 kasus sudah diverifikasi, 40 kasus diverifikasi daerah, serta dalam proses 81 kasus,” lanjutnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2015 in Lingkungan

 

Tag: , , , ,

Gulat Perintahkan Anak Buah Dari Penjara

Jakarta, 29 Desember 2014 – Gulat Medali Emas Manurung, terdakwa perkara suap alih fungsi kawasan hutan Riau terlihat lebih santai dari minggu lalu. Ia umbar senyum begitu masuk ruang sidang Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat.

“Saya siap mengikuti sidang, Yang Mulia,” katanya di depan majelis hakim diketuai Supriyono.

Minggu ini jaksa penuntut umum hadirkan 6 saksi. Mereka bercerita tentang uang Rp 1,5 miliar dari pengusaha Edison Marudut Marsadauli Siahaan. Uang ini dipinjam Gulat Manurung untuk menyuap Gubernur Riau Annas Maamun terkait alih fungsi kawasan hutan pada revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Riau.

Seperti minggu lalu, guna menghemat waktu, sidang kali ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mendengarkan keterangan saksi Mangara Handaya Sinaga, Hendra Pangodian Siahaan, serta Yulia Rotua Siahaan. Sesi berikutnya saksi Edison Marudut Marsadauli Siahaan, Taty Rujiati dan Teti Indrayati.

Mangara Sinaga dan Hendra Siahaan anak buah Gulat Medali Emas Manurung. Mangara bekerja di kebun sawit milik Gulat di Rokan Hilir.

    

“Saya menjaga kebun Pak Gulat seluas 64 hektar, milik dia pribadi,” katanya.

“Apa peran Saudara terkait kasus ini?” tanya Supriyono.

“Saya membuat dan menandatangani kuitansi Rp 1,5 miliar saat Pak Gulat berada di dalam penjara.”

“Siapa yang menyuruh Saudara?”

“Hendra Siahaan.”

Hendra duduk di sebelah Mangara Sinaga. Ia juga anak buah Gulat Manurung, namun bekerja sebagai pegawai di PT Anugerah Kelola Artha, perusahaan bidang kontraktor milik Gulat.

Di depan persidangan, Hendra membenarkan keterangan Mangara.

“Saya ditelepon Pak Gulat, sekitar seminggu setelah ia tertangkap tangan KPK. Awalnya saya ragu, kan Pak Gulat dipenjara, kok bisa telepon? Tapi setelah dengar suaranya, saya percaya kalau itu Pak Gulat,” katanya.

Lewat telepon, sambung Hendra, Gulat memerintahkan Hendra untuk mencari kuitansi dan surat tanah 10 lembar di dalam mobil yang diparkir di halaman rumah Gulat.

“Kau ambil dulu kuitansi dan surat tanah itu, kasihkan ke Pak Edison. Kalau tak dapat kau kuitansi itu, kau buat saja lagi kuitansi baru, yang sama seperti itu,” kata Hendra menirukan perkataan Gulat di telepon saat itu.

Sesuai arahan Gulat, Hendra diminta untuk menulis di kuitansi bahwa Gulat meminjam uang Rp 1,5 miliar kepada Edison Marudut. “Saya cari kuitansinya tidak ada, karena itu, sesuai arahan Pak Gulat, saya terpaksa buat baru,” aku Hendra.

Namun Hendra punya kesulitan. Ia tak bisa membuat kuitansi itu. Lebih penting lagi, ia tak bisa meniru tanda tangan Gulat Manurung. “Karena itu saya telepon Mangara. Minta tolong dia bantu meniru tanda tangan Pak Gulat.”

Mangara bilang ia meniru tanda tangan dengan melihat KTP Gulat. “Sebelum-sebelumnya sudah belajar dulu,” katanya. Menurut Mangara dan Hendra, kuitansi senilai Rp 1,5 miliar itu digunakan untuk melengkapi administrasi peminjaman uang dari Edison Marudut Marsadauli Siahaan. Ia serahakn

EDISON Marudut Marsadauli Siahaan adalah Direktur PT Citra Hokiana Triutama. Perusahaan ini bergerak di bidang kontraktor. “Sampai sekarang masih dapat proyek dari Pemerintah Propinsi Riau,” katanya.

Ia mengaku kenal Gulat Manurung sejak 2010. “Teman minum kopi, satu gereja,” lanjutnya. Di depan persidangan, ia bilang tak ada niat khusus meminjamkan uang Rp 1,5 miliar ke Gulat Manurung. “Hanya karena alasan pertemanan.”

Di sisi lain, Edison mengaku baru komunikasi lagi dengan Gulat Manurung. “Saya minta bantu Pak Gulat agar Gubernur Riau bisa resmikan aula gereja. Dia janji mau bantu. Saya tahu Gulat dekat dengan Atuk Annas,” beber Edison.

Tanggal 25 September, Gulat menghubungi Edison Marudut, minta ditemani tukar uang dollar Amerika Serikat ke dollar Singapura. Ini uang yang dipinjamkan oleh Edison Marudut. Namun di depan persidangan, Edison mengaku tidak tahu kalau itu uangnya.

“Saya ditelepon Pak Gulat, dia tidak tahu jalan Jakarta, minta tolong saya menemani ke money changer, saya bantu,” katanya.

“Masa tidak tahu itu uang Rp 1,5 miliar yang Anda pinjamkan ke terdakwa Gulat? Tidak Anda tanya?” tanya hakim.

“Tidak tahu, Yang Mulia. Saya hanya menemani.”

“Saya minta kejujuran Saudara saja…”

“Saya memang tidak tahu. Karena penyerahan uang dollar itu kan dari Pekanbaru.”

“Tapi kan Saudara diminta tolong tukar, pakai identitas saudara, tidak susah untuk tahu kalau itu uang Saudara.”

“Benar, saya tidak tahu, karena saya tidak tahu lagi wujud uangnya bagaimana.”

Majelis hakim masih terus mengejar kejujuran saksi Edison Marudut Marsadauli Siahaan.

“Kalau hanya menemani, mengapa penukaran uang di money changer harus pakai KTP Anda? Tanda tangan Anda? Bukannya menemani itu biasanya hanya menunggu di luar? Terdakwa yang seharusnya pro aktif saat penukaran uang.”

“Pak Gulat pinjam KTP saya. Saya hanya paraf, bukan tanda tangan.”

“Jadi kenapa penukaran uang harus pakai KTP Saudara?”

“Gulat bilang KTP nya tinggal.”

“Apakah Saudara tidak sadar kalau KTP Saudara dipakai artinya yang transaksi itu Saudara? Tidak sadar itu?”

“Memang pakai KTP saya.”

“Bagaimana bisa Saudara bilang menemani tapi yang tanda tangan formulir Saudara, pakai KTP Saudara? Itulah yang tidak masuk akal, makanya kami kejar terus.”

“Mengalir begitu saja, saya tidak berbohong, Yang Mulia. Gulat yang minta KTP karena KTP nya tinggal di mobil.”

“Ya sudahlah, nanti biar majelis hakim yang menilai. Yang jelas keterangan Anda berbeda dengan saksi di sebelah Anda.”

Saksi yang dimaksud majelis hakim adalah Teti Indrayati. Ia teller money changer yang melayani Edison Marudut dan Gulat Manurung saat hendak menukarkan uang dollar AS ke dollar Singapura. Ia bilang yang aktif saat proses transaksi berlangsung adalah Edison Marudut.

Jaksa Penuntut Umum juga menghadirkan saksi Yulia Rotua Siahaan dan Taty Rujiati. Yulia adalah bagian keuangan PT Citra Hokiana Triutama, perusahaan milik Edison Marudut. Dia berperan mencairkan uang Rp 1,5 miliar yang diminta Edison untuk diberikan kepada Gulat Manurung. “Saya cairkan di Bank Mandiri dalam bentuk Rupiah. Langsung saya berikan kepada Pak Edison di bank itu,” kata Yulia.

Edison Marudut lantas menukarkan mata uang Rupiah senilai Rp 1,5 miliar ke mata uang dollar AS di Bank Mandiri tersebut. Lalu diserahkan ke Gulat Manurung di depan Rumah Sakit Eka Hospital Pekanbaru pada 23 September. Esoknya, uang itu yang dibawa Gulat Manurung dan Eddy Ahmad RM ke Jakarta untuk diserahkan ke Annas Maamun di Perumahan Citra Grand Cibubur.

Annas Maamun ingin dollar Singapura. Tanggal 25 September pagi ia telepon Gulat Manurung untuk menukarkan dollar AS ke dollar Singapura. Gulat minta tolong Edison Marudut untuk menemaninya.

Saksi Taty Rujiati membenarkan bahwa Gulat Manurung dan Edison Marudut datang ke money changer PT Masayu Agung, tempatnya bekerja, untuk menukarkan mata uang dollar AS ke dollar Singapura. “Saya tak melihat proses transaksi. Tidak tahu siapa yang pro aktif menukarkan. Saya hanya terima uang dari Teti Indrayati di ruangan saya,” ujar Taty.

Di akhir persidangan, Gulat Manurung memberi tanggapan. Ia membantah keterangan saksi Teti Indrayati dan menyatakan bahwa dirinya yang pro aktif menukarkan mata uang. “Saya pulang balik keluar ruangan karena bicara dengan Pak Annas Maamun di telepon. Orang tua itu berubah-berubah terus perkataannya. Sebentar ini, sebentar itu. Pusing saya,” katanya.

Terkait keterangan saksi Hendra dan Mangara yang menyatakan Gulat memerintah mereka dari dalam penjara untuk membuat kuitansi dan menyerahkan surat tanah 10 lembar, Gulat tak membantah.

Sidang selesai pukul 13.40. Edison Marudut saksi yang diperiksa paling lama karena diduga tidak jujur dalam memberikan keterangan. Sidang dilanjutkan minggu depan dengan agenda lanjutan pemeriksaan saksi. RCT/Lovina

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2015 in Telisik

 

Tag: , , ,